Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 26 Maret 2016
Bosan Menjalani Hidup
Ini
merupakan kisah yang dikutip dari sebuah fanspage di facebook. Sebuah
kisah yang sangat menarik. Mari kita simak kisah di bawah ini!Seorang pria paruh baya mendatangi seorang guru ngaji, “Ustad, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati.”
Sang Ustad pun tersenyum, “Oh, kamu sakit.”
“Tidak Ustad, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.”
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Ustad meneruskan. “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan.”
Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan.Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo.
Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga, bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng dan yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan.Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.
“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku,” demikian ujar sang Ustad.
“Tidak Ustad, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup,” pria itu menolak tawaran sang Ustad.
“Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?”
“Ya, memang saya sudah bosan hidup.”
“Baik, besok sore kamu akan mati. Ambilah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.”
Giliran dia menjadi bingung. Setiap Ustad yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Tapi ustadz yang satu ini aneh. malah Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh Ustad edan itu. Dan ia merasakan ketenangan sebagaimana yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai. Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran masakan Jepang.Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai sekali. Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan berbisik di telinganya.
“Sayang, aku mencintaimu.” Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.
Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sang istripun merasa aneh sekali.
“Mas, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, mas.”
Di kantor, ia menyapa setiap orang dan bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Bos kita kok aneh ya?”
Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.
Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan.
Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Mas, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.”
Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu stres karena perilaku kami semua.”
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia membatalkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi, bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum sore sebelumnya?
”Ya Allah, apakah maut akan datang kepadaku. Tundalah kematian itu ya Allah. Aku takut sekali jika aku harus meninggalkan dunia ini." Ia pun buru-buru mendatangi sang Ustad yang telah memberi racun kepadanya.
Sesampainya di rumah ustad tersebut, pria itu langsung mengatakan bahwa ia akan membatalkan kematiannya. Karena ia takut sekali jika ia harus kembali kehilangan semua hal yang telah membuat dia menjadi hidup kembali.
Apa yg terjadi, melihat wajah pria itu, rupanya sang Ustad langsung mengetahui apa yang telah terjadi. Sang ustad pun berkata,
“Buang saja botol itu. Isinya air biasa kok. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kepasrahan, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan. percayalah .. Allah bersama kita."
Kemudian pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Ustad, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Ah, indahnya dunia ini ……
Belajar Dari Gusdur
Siapa yang tidak kenal dengan yang namanya Gus Dur? Sosok yang mempunyai banyak kisah berharga yang bisa kita jadikan motivasi untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Berikut ada penggalan kisah dari Gus Dur yang ditulis oleh Ahmad Tohari, salah satu budayawan berdasarkan pengalamannya bersama Gus Dur.
Kanjeng Nabi Muhammad SAW pernah tidur di lantai tanah beralaskan tikar dari daun kurma. Maka, ketika beliau bangun ada bekas guratan daun kurma pada pipi beliau. Hal serupa ternyata juga diamalkan mantan Presiden ke-4 RI KH. Abdurrahman
Wahid atau Gus Dur yang beberapa tahun lalu kembali ke haribaan Sang Khaliq.
Pada tahun 1995, Gus Dur tidur dua hari dua malam di rumah Ahmad Tohari yang sederhana di kampung. Malam
pertama, Gus Dur mau tidur di dipan kayu yang Ahmad Tohari sediakan. Tetapi, malam kedua beliau
memilih untuk tidur di karpet murahan yang menutup lantai ruang tengah. Gus
Dur tampak santai dan tidur amat lelap. Kepalanya hanya tersangga bantal
sandaran kursi.
Perihal
Gus Dur suka tidur di karpet sudah diketahui oleh Ahmad Tohari sejak lama. Ketika naik haji
bersama pada 1988, saat tidur di hotel, Gus Dur memilih karpet daripada kasur
kelas satu kamar hotel berbintang lima. Tapi, itu karpet kualitas super.
Ahmad Tohari percaya, Gus Dur melakukan semua itu dengan enak, tanpa pretensi apa pun. Tapi,
istri Ahmad Tohari menjadi tak bisa tidur dan sepanjang malam sering mengusap air mata. Ahmad Tohari pun merenung dalam kesadaran bahwa semua perilaku orang berilmu mengandung
pelajaran. Maka, pelajaran apa yang sedang diberikan Gus Dur kepada keluarga Ahmad Tohari?
Bertahun-tahun
pertanyaan itu mengusik jiwanya. Akhirnya, ia mendapatkan jawaban dan
mudah-mudahan mendekati kebenaran. Dengan rela tidur di lantai, Gus Dur
sesungguhnya sedang memberi sebuah pelajaran untuk menyadari hakikat diri bahwa manusia sehebat
apa pun sesungguhnya tidak ada apa-apanya. Kemuliaan adalah hak Allah semata.
Maka, manusia, siapa pun, tidak pantas merasa mulia, tak pantas minta, apalagi
menuntut untuk dimuliakan. Jadi, semua manusia sepantasnya rela tidur di lantai
karena sesungguhnya tak ada kemuliaan baginya melainkan hak Allah.
Mungkin,
jalan pikiran ini terlalu nyufi. Maka, Ahmad Tohari mulai mencari jawaban di wilayah syariat. Rasanya, ia menemukan jawabannya, yakni pada rukun
Islam yang pertama, syahadat. Setelah syahadat (taukhid) diucapkan fasih dengan
lisan, dibenarkan dengan akal yang dipercaya dengan hati. Lalu? Seperti rukun
Islam yang lain, syahadat sebenarnya menuntut implemantasi dalam bentuk
perilaku nyata sehar-hari. Kalau tidak syahadat, hanya akan menjadi simbol yang tidak melahirkan ihsan.
Orang
Islam mana yang tidak tahu bahwa syahadat adalah kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah? Semua tahu, mengerti, dan yakin. Tapi, siapa yang
sudah mengimplementasikan itu dalam kehidupan nyata? Kita memang sudah menjaga
kebersihan syahadat dengan tidak menyembah berhala, tidak percaya dukun, bahkan
mungkin tidak memberhalakan harta maupun kedudukan. Itu sudah hebat sekali.
Namun, masih ada pertanyaan kritis yang menunggu untuk dijawab. Apakah karena sudah
bersyahadat, kita tidak lagi memberhalakan diri dalam segala bentuk dan
manifestasinya?
Merasa bahwa diri sendiri yang paling mulia, istimewa, atau lebih ini lebih itu dari orang lain adalah bentuk awal pemujaan atau peng-ilah-an diri. Tentu saja hal
itu menodai keikhlasan syahadat. Sebab, hanya Allah yang sejatinya mulia,
sejatinya istimewa, dan serba lebih daripada makhluk mana pun. Oleh karena itu,
siapa pun yang ingin memelihara syahadatnya harusnya selalu bersikap tahu diri
kapan dan dimana pun.
Selama hampir 30 tahun Ahmad Tohari bergaul dengan Gus Dur, sikap tahu dirilah yang tampak dan terpancar dari kepribadiannya. Beliau hormat kepada yang tua, sayang
kepada yang muda, dan amat bersahabat dengan teman seusia. Rasa setiakawan beliau
yang mendalam menembus batas ras, agama, status sosial, bahkan batas
kebangsaan.
Dalam satu kalimat, Gus Dur adalah orang yang sangat tahu diri dan menganggap dirinya biasa, sama saja dengan orang lain. Itulah pelajaran dan keteladanan yang Ahmad Tohari
dapatkan. Itulah cara Gus Dur mengajari untuk memelihara syahadat. Caranya,
tidak menganggap diri sendiri mulia atau istimewa, karena keduanya adalah hak Allah.
Dengan demikian, Ahmad Tohari mengerti mengapa Gud Dur rela dan nyaman saja tidur dilantai rumah yang sederhana. Agaknya karena syahadat yang telah terhayati mencegah
diri beliau merasa istimewa atau merasa sebagai manusia mulia. Sementara kebanyakan
dari kita karena tidak menghayati syahadat, sering merasa diri kita sendiri mulia atau
terhormat, atau bahkan menuntut kehormatan. Padahal, sikap seperti itu jelas
mengurangi mutu kesaksian bahwa tidak ada ilah selain Allah. Wallahu a’lam.
Kamis, 17 Maret 2016
Hidup Atau Mati Aku Tetap Bahagia
Suatu hari seorang ibu yang terapung di lautan karena kapalnya karam tampak tetap bahagia. Seorang pemuda yang kebetulan berada didekatnya merasa sangat penasaran dan bertanya kepadanya,
“Bu,bagaimana ibu masih bisa berbahagia dalam kondisi yang tidak menentu ini. Jika pertolongan tidak segera datang, maka kita akan mati.”
Ibu itupun menjawab,
“Saya mempunyai dua orang anak laki laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua masih hidup di tanah seberang. Seandainya berhasil selamat, saya sangat bahagia karena saya akan berjumpa dengan anak kedua saya. Dan jika ternyata tidak terselamatkan, maka saya juga bahagia karena akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”
Hikmah dibalik kisah
Berpikir positif dalam keadaan yang sulit membuat seseorang tetap bahagia. Jika kita menyikapi setiap kondisi dengan cara berpikir yang baik, maka apapun kondisinya, kita akan bersyukur. Oleh karena itu, mari kita belajar untuk menyikapi setiap kondisi kita dengan positif.(MA/Syukur)
Hanya Sebuah Koin Gepeng

Suatu hari seorang laki laki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi keuangan keluarganya porak poranda. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya, sandang maupun pangan. Anak anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tidak tahan dengan kondisi yang ia hadapi, dan dia tidak yakin bahwa perjalanannya kali ini akan membuahkan hasil yang ia inginkan, yaitu mendapatkan pekerjaan.
Ketika laki-laki itu menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya tersandung sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.
“Uh, ternyata hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” ujarnya kecewa.
Meskipun demikian ia membawa koin itu ke seorang kolektor uang kuno. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai tiga ratus ribu. Ia begitu senang dan mulai memikirkan apa yang akan ia lakukan dengan rizki tersebut.
Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata bahwa mereka tak punya tempat untuk meletakkan toples. Setelah membeli lembaran kayu seharga 300 ribu, dia memanggul kayu tersebut dn beranjak pulang.
Ditengah perjalanan ia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Ia menawarkan uang sejumlah satu juta pada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata lelaki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan disana ada sebuah lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.
Di tengah perjalanan ia melewati sebuah perumahan baru. Seoarang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya menengok keluar jendela dan melihat lelaki itu tengah mendorong gerobak yang berisi lemari yang indah. Wanita itu terpikat dan menawarnya dengan harga dua juta. Ketika laki-laki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi dua setengah juta rupiah. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang. Di pintu desa ia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran senilai dua setengah juta rupiah itu. Lalu tiba-tiba ada seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati,merampas uang itu, lalu kabur.
Istri lelaki itu kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya sambil berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik-baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.
Memang, ada berbagai cara untuk menyikapi kehilangan. Semoga kita termasuk orang yang bijak dalam menyikapi kehilangan dan sadar bahwa semua itu hanyalah TITIPAN Allah. Bila kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan? “Sesungguhnya kemenangan hidup bukan pada tingkat keberhasilan mendapat banyak, tetapi pada kemampuan mensyukuri apa yang didapat dan menyadari bahwa itu bukanlah miliknya”.(MA/Syr)
adaptasi dari The Healing Stories karya GW Burns
Langganan:
Postingan
(
Atom
)






